Sejarah Tahun Baru Imlek di Indonesia Menurut Kitab Leluhur Tionghoa

SEJARAH TAHUN BARU IMLEK – Tahun Baru Imlek adalah perayaan penting bagi masyarakat Tionghoa. Perayaan Imlek ini dimulai di hari pertama, bulan pertama (Pinyin) dalam kalender Tionghoa, dan diakhiri dengan Cap Go Meh pada tanggal ke-15 tepat pada bulan purnama.

deweezz.com

Chuxi yang berarti “malam pergantian tahun” adalah sebutan malam tahun baru oleh masyarakat Tionghoa. Tempat asal bangsa Tionghoa, Di Tiongkok sana, adat dan budaya daerah dalam perayaan tahun baru Imlek sangat beraneka ragam.

Namun, secara umum acara utamanya masih sama, seperti makan malam dan pesta kembang api. Tahun baru Imlek ini merupakan hari libur besar bagi masyarakat Tionghoa.

Sejarah Tahun Baru Imlek

Sejarah tahun baru Imlek dimulai pada masa sebelum Dinasti Qin. Pada saat itu tanggal perayaan awal tahun masih belum jelas. Ada kemungkinan bahwa awak tahun dimulai pada bulan 1 masa Dinasti Xia, bulan 12 pada masa Dinasti Shang, dan bulan 11 pada masa Dinasti Zhou di China.

Bulan kabisat yang digunakan untuk menentukan kalender Tionghoa mengacu dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah 12 sejak Dinasti Shang dan Zhou. Qin Shi Huang sebagai Kaisar pertama China, ia menukar dan menetapkan bahwa tahun Tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM.

Pada tahun 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah sejak Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun hingga sekarang. Tujuannya supaya perayaan tahun baru dapat sesuai dengan masyarakat Tiongkok yang pada umumnya merupakan masyarakat Agraris.

Pada masa pemerintahan Dinasti Zhou, perayaan tahun baru dilaksanakan pada saat Winter Solistic atau Dongzhi.

Pada pemerintahan Dinasti Qing, Kang Youwei (1858-1927) adalah seorang reformis Ruism menyarankan supaya menggunakan Kongzi era yang dihitung dari tahun kelahiran Kongzi. Sedangkan Liu Shipei menolak akan hal itu, dan mengusulkan agar tahun kalender Tionghoa dihitung dari tahun kelahiran Huangdi.

Lalu muncullah sebuah pertanyaan dan masalah, yaitu kapan Huangdi dilahirkan untuk dijadikan perhitungan Huangdi era.

Song Jiaoren memperkirakan tahun 2697 BCE merupakan tahun kelahiran Huangdi. Kemudian Liu Shipei memperkirakan tahun 2711 BCE adalah tahun kelahiran Huangdi. Pada akhirnya masyarakat sepakat untuk menerima tahun 2697 BCE sebagai awal Huangdi Era.

Sebagian besar masyarakat Tionghoa di luar negeri dan umat Taoisme lebih memilih menggunakan Huangdi Era, karena Huangdi dalam sejarah Tiongkok dianggap sebagai bapak bangsa etnis Han.

Lalu menurut Taoisme menggunakan Huangdi Era karena dalam kepercayaannya Kaisar Kuning ini merupakan pembuka ajaran agama Tao. Dan sebab inilah yang menimbulkan Huangdi Era dan Dao Era.

Sejarah Tahun Baru Imlek di Indonesia

deweezz.com

Indonesia juga merupakan wilayah yang disinggahi oleh bangsa Tionghoa. Namun, pada tahun 1968 hingga 1999 pemerintah melarang tahun baru Imlek dirayakan di depan umum. Tercantum dalam Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967; Rezim orde baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, diantaranya Imlek.

Pada tahun 2000, masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967, dan masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia mendapatkan kebebasan kembali untuk merayakan tahun baru.

Kemudian Abdurrahman Wahid menindaklanjuti dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001, tepat pada tanggal 9 April 2001 diresmikannya Imlek sebagai hari libur fakultif (berlaku bagi masyarakat yang merayakan).

Lalu pada tahun 2002, oleh presiden Megawati Soekarnoputri meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional, dimulai dari tahun 2003.

Kristoforus Sindhunata adalah orang Tionghoa yang pertama kali mengusulkan larangan total untuk merayakan tahu baru Imlek, adat istiadat, dan budaya Tionghoa kepada Presiden Soeharto. Pada saat itu keputusan Presiden Soeharto mengizinkan, namun hanya dirayakan di rumah keluarga Tionghoa, bukan di depan umum.

Terima kasih sudah berkunjung

Natali Sani:
Related Post